Oleh :
Marchella Ester Hatiuron
NIM : 2015.66.115
BAB I
MASALAH
Masa
pertumbuhandan perkembangan anak tentu menjadi perhatian sang orang tua sejak
dalam masa kandungan sampai anak beranjak dewasa. Setiap orang tua tentu
menginginkan kehidupan yang sehat bagi anaknya. Ketika individu berperan
sebagai orangtua dalam kehidupan tentu kesehatan anak menjadi hal yang penting
dan patut diperhatikan. Kesehatan yang
baik tentu menjadi hal yang penting dalam mewujudkan kehidupan yang didambakan
setiap orang. Kesehatan merupakan faktor utama yang dibutuhkan setiap manusia
untuk menjalani kesehariannya.
Kesehatan menurut
World Health Organization (WHO) adalah suatu keadaan sehat jasmani, rohani, dan
social secara utuh dan tidak hanya bebas dari penyakit serta kecacatan. Serta
pengertian kesehatan menurut undang-undang adalah keadaan sehat, baik secara
fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk
hidup produktif secara sosial dan ekonomis. (Sumber : Undang-Undang Kesehatan
nomor 36 Tahun 2009).
|
|
Cerebral
palsymerupakan salah satu
masalah dalam tahap tumbuh kembang anak yang sering ditemukan.
Cerebral palsy merupakan kelainan atau kerusakan pada otak yang bersifat
non-progresif yang terjadi pada proses tumbuh kembang (Sumber : Miller,
Freeman, 2004). Kelainan atau kerusakan tersebut dapat terjadi pada saat di
dalam kandungan (pre-natal), selama proses melahirkan (natal),
atau setelah proses kelahiran (post-natal). Cerebral palsy dapat mengakibatkan gangguan sikap (postur), kontrol
gerak, gangguan kekuatan otot yang biasanya disertai gangguan neurologik berupa
kelumpuhan, spastik, gangguan basal ganglia, cerebellum dan kelainan mental (mental retardation) (Sumber
:Dorlan, 2005). American Academy for Cerebral Palsy mengemukakan
klasifikasi CP sebagai berikut : klasifikasi neuro motorik yaitu spastic,
atetosis, rigiditas, ataxia, tremor dan mixed. Klasifikasi distribusi topografi
keterlibatan neuromotorik : diplegia, hemiplegia, triplegia, quadriplegia
(Sunusi dan Nara, 2007).
Cerebral
Palsy Spastic Quadriplegi merupakan tipe yang akan dibahas
lebih lagi oleh penulis, yakni gangguan postur dan kontrol gerakan yang
bersifat non progresif yang disebabkan oleh karena lesi atau perkembangan
abnormal pada otak yang sedang tumbuh atau belum selesai pertumbuhannya yang
ditandai dengan meningkatnya reflek tendon, stertch reflek yang berlebihan,
hiperkontraktilitas otot pada keempat ekstremitas (Sumber :AANA journal, John
Aker, 2007). Permasalahan utama yang dialami oleh penderita cerebral palsy spastik quadriplegi
adalah adanya gangguan distibusi tonus postural (spastisitas) pada keempat
ektremitas, gangguan postural control, adanya serta gangguan keseimbangan yang
menyebabkan penderita mengalami gangguan fungsional.
Keseimbangan
tentu sangat dipengaruhi oleh postural kontrol seseorang. Postural control
meliputi kontrol terhadap posisi tubuh dan berfungsi untuk stabilitas dan
orientasi tubuh seseorang. Keseimbangan merupakan interaksi yang
kompleks dari integrasi atau interaksi sistem sensorik (vestibular, visual dan
somatosensorik termasuk proprioceptor) dan musculoskeletal (otot, sendi dan
jaringan lunak lain) yang dimodifikasi atau diatur dalam otak (control motorik,
sensorik, basal ganglia, cerebellum, area asosiasi) sebagai respon terhadap
perubahan kondisi internal dan eksternal.
Fisioterapi
merupakan salah satu disiplin ilmu dan bagian dari tenaga kesehatan yang
mempunyai peran untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, intervensi
yang diberikan adalah yang berhubungan dengan gerak dan fungsi. Fisioterapi
merupakan suatu bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu dan
atau kelompok untuk mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak dan fungsi
tubuh sepanjang rentan kehidupan dengan
menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan (fisik,
elektroterapeutis, dan mekanik), pelatihan fungsi dan komunikasi (Sumber :
Permenkes Nomor 80 Tahun 2013 Pasal 1 ayat 2).
Dalam menghadapi
permasalahan ini tentu fisioterapi mempunyai peran penting yaitu memberikan
pelayanan secara optimal pada tahapan tumbuh kembang anak. Terutama dalam
melatih kemampuan fungsional dalam keseimbangan duduk pada anak penderita cerebral palsy spastik quadriplegi agar
mengurangi ketergantungan terhadap orang lain dengan berbagai metode, salah
satunyadengan menggunakan metode Bobath. Metode ini dikembangkan oleh Karel
Bobath dan istrinya Bertha Bobath pada tahun 1992 berdasarkan konsep bahwa
hipertonus yang disebabkan oleh kelumpuhan otak terjadi akibat adanya aktivitas
reflek postural yang tidak normal.
Berdasarkan hal diatas
maka penulis akan membahas lebih dalam lagi mengenai cerebral palsy spastik quadriplegi dalam kaitannya dengan keseimbangan
Dalam memenuhi tugas
filsafat yang diberi judul : “HUBUNGAN LATIHAN DI ABDUCTION BENCH DENGAN
METODE
BOBATH TERHADAP
KESEIMBANGAN DUDUK PADA ANAK CEREBRAL PALSY SPASTIK QUADRIPLEGI”.
